Sunday, September 16, 2018

Tiket yang Percuma

hi namaku adin. aku tinggal di tengah kota. menjadi seorang metropolit artinya memiliki kesibukan dan tuntutan bergerak cepat.

dari padang rumput pedesaan sampai lapangan beton perkotaan. perbedaan keadaan mendidik kami dengan moral yang berbeda. dituntut dengan kebutuhan yang berbeda. dengan kemungkinan pencapaian yang lebih luas.

aku pergi dari kota ke kota dalam beberapa menit, dari pulau ke pulau dalam beberapa jam, mengitari cakrawala dalam setengah hari. tidak peduli hujan atau bergesernya matahari dari ufuk ke ufuk.

perkotaan, berbeda dari pedesaan. kematian terjadi setiap saat. namun kesedihan sesaat tak membuat sebuah kota berhenti untuk sejenak.

banyak orang yang mengatakan ada banyak hal di balik tembok, dengan lebih sedikit untuk dilakukan. hal indah di balik tembok besar kehidupan. meninggallan urusan sisi tembok yang lain. namun aku tak pernah pergi mencari tahu apa yang sebenarnya dibaliknya.

semenjak aku memiliki tiket untuk pergi ke balik tembok, sebuah tiket tanpa masa tenggang. aku hanya berhenti terdiam melihat tubuhku terapung kesana kemari.

isi perutku mulai membusuk menumpuk metana, karnanya tubuhku mulai menggelembung. setelah beberapa hari tenggelam, membuatku lebih ringan dari air. akhirnya aku menampak di permukaan samudra.

setelah beberapa hari selanjutnya tubuhku menyerap air sebanyak yang ia bisa. sekarang beberapa bagian tubuhku dua kali lebih besar dari yang biasanya. sampai beberapa hari berikutnya perutku pecah mengurai isinya. melepaskan berliter liter metana ke atmosfer. menenggelamkanku setelahnya.

aku hanya berhenti, mematung memandangi tubuhku yang mulai karam. membayangkan berminggu minggu usaha bertahan hidup sia sia. di saat saat terakhir aku tersadar, apa yang sebenarnya ku perjuangkan. hidup?, omong kosong, usaha semata agar aku tak mati. bahkan jika aku hidup, tak banyak aku bermanfaat. tidak bahkan untuk sanak keluargaku.

aku tak masalah. kuharap tubuhku tak pernah ditemukan. tubuhku hanya membawa kesedihan yang lebih banyak. aku tak masalah menjadi makanan makhluk laut. menjadi satu dengan samudra.

No comments:

Post a Comment