hi namaku adin. aku tinggal di tengah kota. menjadi seorang metropolit artinya memiliki kesibukan dan tuntutan bergerak cepat.
dari padang rumput pedesaan sampai lapangan beton perkotaan. perbedaan keadaan mendidik kami dengan moral yang berbeda. dituntut dengan kebutuhan yang berbeda. dengan kemungkinan pencapaian yang lebih luas.
aku pergi dari kota ke kota dalam beberapa menit, dari pulau ke pulau dalam beberapa jam, mengitari cakrawala dalam setengah hari. tidak peduli hujan atau bergesernya matahari dari ufuk ke ufuk.
perkotaan, berbeda dari pedesaan. kematian terjadi setiap saat. namun kesedihan sesaat tak membuat sebuah kota berhenti untuk sejenak.
banyak orang yang mengatakan ada banyak hal di balik tembok, dengan lebih sedikit untuk dilakukan. hal indah di balik tembok besar kehidupan. meninggallan urusan sisi tembok yang lain. namun aku tak pernah pergi mencari tahu apa yang sebenarnya dibaliknya.
semenjak aku memiliki tiket untuk pergi ke balik tembok, sebuah tiket tanpa masa tenggang. aku hanya berhenti terdiam melihat tubuhku terapung kesana kemari.
isi perutku mulai membusuk menumpuk metana, karnanya tubuhku mulai menggelembung. setelah beberapa hari tenggelam, membuatku lebih ringan dari air. akhirnya aku menampak di permukaan samudra.
setelah beberapa hari selanjutnya tubuhku menyerap air sebanyak yang ia bisa. sekarang beberapa bagian tubuhku dua kali lebih besar dari yang biasanya. sampai beberapa hari berikutnya perutku pecah mengurai isinya. melepaskan berliter liter metana ke atmosfer. menenggelamkanku setelahnya.
aku hanya berhenti, mematung memandangi tubuhku yang mulai karam. membayangkan berminggu minggu usaha bertahan hidup sia sia. di saat saat terakhir aku tersadar, apa yang sebenarnya ku perjuangkan. hidup?, omong kosong, usaha semata agar aku tak mati. bahkan jika aku hidup, tak banyak aku bermanfaat. tidak bahkan untuk sanak keluargaku.
aku tak masalah. kuharap tubuhku tak pernah ditemukan. tubuhku hanya membawa kesedihan yang lebih banyak. aku tak masalah menjadi makanan makhluk laut. menjadi satu dengan samudra.
Sunday, September 16, 2018
Saturday, September 15, 2018
keledai dan penunggangnya
"hei budak. berani kau mengajariku?" tanya retoris seorang majikan pada pelayannya.
"ampun tuan, hanya saja hamba tahu mana yang benar,"
"sadarlah diri dimana posisimu," hardik majikan sambil menghunus telunjuknya.
"maaf tuan, saya sudah tahu dimana posisi saya."
"bagus kalau begitu. pimpin perjalan,"
si pelayan berakhir berjalan didepan sang majikan sepanjang sisa perjalanan.
di perjalanan mereka bertemu seekor keledai terjerumus didalam lumpur bersama tuannya.
"ampun tuan, hanya saja hamba tahu mana yang benar,"
"sadarlah diri dimana posisimu," hardik majikan sambil menghunus telunjuknya.
"maaf tuan, saya sudah tahu dimana posisi saya."
"bagus kalau begitu. pimpin perjalan,"
si pelayan berakhir berjalan didepan sang majikan sepanjang sisa perjalanan.
di perjalanan mereka bertemu seekor keledai terjerumus didalam lumpur bersama tuannya.
Friday, September 14, 2018
Pulang Sore
saatku berjalan dalam kegelapan malam, dengan langkah ronggeng yang ragu aku semakin dekat dengan rumah.
mataku tak bisa lepas dari sekitar, memindai setiap sudut bangunan dan barisan pohon randu.
setiap langkahku menghasilkan suara derak daun kering.
drak....drakkk......drakk.....
semakin banyak langkah yang kubuat semakin aku terbiasa dengan suara langkahku.
"kenapa sangat gelap" seruku dalam hati.
ada lebih banyak daun yang kuinjak. semakin banyak dan semakin banyak. aku tak lagi bisa merasakan kerikil jalanan.
kurasakan dedaunan mengenang kakiku setinggi lutut.
semakin lambat bisaku berjalan.
semakin lelah kakiku kugerakan.
aku berusaha keras melangkah.
sesaat kemudian keseimbanganku hilang dan aku terjatuh diatas tumpukan daun kering. terbaring lemah diatas dedaunan.
dedauanan itu terus bertambah semakin banyak untuk menguburku.
sampai itu menelan tubuh dan wajahku seutuhnya.
aku tak bisa bergerak kelelahan karrna beratnya daun.
didalam sini terasa hangat, semakin lama semakin hangat. kehangatan itu menyulitkanku bernapas.
menerima tekanan berat dari daun memicu ketakutanku akan ruang sempit.
aku semakin panik dan kesulitan bernapas. aku berteriak, suara ku hanya memantul kembali ketelingaku.
aku berteriak, terkurung dalam timbunan daun, membusuk bersamanya.......
itulah apa yang dikatakan ibuku jika aku tak menyapu halaman.
"kenapa sangat gelap" seruku dalam hati.
ada lebih banyak daun yang kuinjak. semakin banyak dan semakin banyak. aku tak lagi bisa merasakan kerikil jalanan.
kurasakan dedaunan mengenang kakiku setinggi lutut.
semakin lambat bisaku berjalan.
semakin lelah kakiku kugerakan.
aku berusaha keras melangkah.
sesaat kemudian keseimbanganku hilang dan aku terjatuh diatas tumpukan daun kering. terbaring lemah diatas dedaunan.
dedauanan itu terus bertambah semakin banyak untuk menguburku.
sampai itu menelan tubuh dan wajahku seutuhnya.
aku tak bisa bergerak kelelahan karrna beratnya daun.
didalam sini terasa hangat, semakin lama semakin hangat. kehangatan itu menyulitkanku bernapas.
menerima tekanan berat dari daun memicu ketakutanku akan ruang sempit.
aku semakin panik dan kesulitan bernapas. aku berteriak, suara ku hanya memantul kembali ketelingaku.
aku berteriak, terkurung dalam timbunan daun, membusuk bersamanya.......
itulah apa yang dikatakan ibuku jika aku tak menyapu halaman.
seorang pelanggan memasuki sebuah restoran, duduk dan membaca menu yang diulurkan pelayan. di depan pelayan dia berkata "boleh saya memesan ini" sambil menunjuk sebuah tulisan dari aksen perancis.
" tentu saja" jawab sang pelayan, dan kemudian pergi.
pelanggan itu berakhir menghabiskan malam dalam kelaparan
Thursday, September 13, 2018
Subscribe to:
Posts (Atom)