mataku tak bisa lepas dari sekitar, memindai setiap sudut bangunan dan barisan pohon randu.
setiap langkahku menghasilkan suara derak daun kering.
drak....drakkk......drakk.....
semakin banyak langkah yang kubuat semakin aku terbiasa dengan suara langkahku.
"kenapa sangat gelap" seruku dalam hati.
ada lebih banyak daun yang kuinjak. semakin banyak dan semakin banyak. aku tak lagi bisa merasakan kerikil jalanan.
kurasakan dedaunan mengenang kakiku setinggi lutut.
semakin lambat bisaku berjalan.
semakin lelah kakiku kugerakan.
aku berusaha keras melangkah.
sesaat kemudian keseimbanganku hilang dan aku terjatuh diatas tumpukan daun kering. terbaring lemah diatas dedaunan.
dedauanan itu terus bertambah semakin banyak untuk menguburku.
sampai itu menelan tubuh dan wajahku seutuhnya.
aku tak bisa bergerak kelelahan karrna beratnya daun.
didalam sini terasa hangat, semakin lama semakin hangat. kehangatan itu menyulitkanku bernapas.
menerima tekanan berat dari daun memicu ketakutanku akan ruang sempit.
aku semakin panik dan kesulitan bernapas. aku berteriak, suara ku hanya memantul kembali ketelingaku.
aku berteriak, terkurung dalam timbunan daun, membusuk bersamanya.......
itulah apa yang dikatakan ibuku jika aku tak menyapu halaman.
"kenapa sangat gelap" seruku dalam hati.
ada lebih banyak daun yang kuinjak. semakin banyak dan semakin banyak. aku tak lagi bisa merasakan kerikil jalanan.
kurasakan dedaunan mengenang kakiku setinggi lutut.
semakin lambat bisaku berjalan.
semakin lelah kakiku kugerakan.
aku berusaha keras melangkah.
sesaat kemudian keseimbanganku hilang dan aku terjatuh diatas tumpukan daun kering. terbaring lemah diatas dedaunan.
dedauanan itu terus bertambah semakin banyak untuk menguburku.
sampai itu menelan tubuh dan wajahku seutuhnya.
aku tak bisa bergerak kelelahan karrna beratnya daun.
didalam sini terasa hangat, semakin lama semakin hangat. kehangatan itu menyulitkanku bernapas.
menerima tekanan berat dari daun memicu ketakutanku akan ruang sempit.
aku semakin panik dan kesulitan bernapas. aku berteriak, suara ku hanya memantul kembali ketelingaku.
aku berteriak, terkurung dalam timbunan daun, membusuk bersamanya.......
itulah apa yang dikatakan ibuku jika aku tak menyapu halaman.
No comments:
Post a Comment